Majalah Sekolah Impian Guru
Pertemuan ke-11 KBMN PGRI Gel-28
Hari : Rabu, 1 Februari 2023
Tema : Mengelola Majalah Sekolah
Narasumber : Widya Setianingsih, S.Ag.
Moderator : Mutmainah.,M.Pd.
Bismillahirrahmanirrahiim
Alhamdulliah malam ini kita belajar bersama kembali di KBMN Gel-28. Terus mengucapkan syukur atas segala nikmatNya, semoga kita terus semangat menuntut ilmu. Malam ini kelas kita akan ditemani Ibu Mutmainah,M.Pd. selaku moderator. Ibu cantik yang akrab disapa Bu Emut ini berasal dari Lebak Banten. Bu Emut merupakan salah satu Alumni KBMN PGRI Gel-24 asuhan OmJay. Perjalanan dan jejak literasinya sudah membuahkan hasil. Satu buku solo dan 20 buku antologi sudah beliau miliki. Dengan semangat para peserta mengikuti kelas. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat.
Mempunyai majalah sekolah pasti menjadi kebanggaan tersendiri. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Majalah sekolah tidak hanya wadah kreativitas guru dan murid saja. Namun sekaligus sebagai media komunikasi, promosi dan publikasi sekolah.
Mungkin para peserta penasaran dan tertarik ingin tahu bagaimana membuat majalah sekolah. Biar tidak penasaran, mari menyimak materi menulis malam ini dengan seksama. Semoga bisa menorehkan resume yang lebih baik. Sebagaimana kalimat motivasi OmJay, tantangan menulis resume kita ini, semoga kelak bisa menjadi buku yang bermutu. Semangat para guru hebat.
Lima menit sebelum kelas dimulai Bu Emut membagikan sebuah puisi karya bu Widya, berikut kita simak:
Rindu Tanpa Alamat
Rinduku terjerat terali
Yang mengambang di lekat lilitan senja
Kedua tangan mendongak merapal do’a
Teramputasi berjuta bayangan
Garis takdir merajut seenaknya
Bebicara seolah penguasa
Menggurui jiwa kosong tak berdaya
Meludahi setiap keluh kesah
Gigilku diselimuti pagi
Terseok di jalanan sepi
Tarian pilu terasa bergirang hari
Mencumbui tapi tak peduli
Jika inginku saja tak kau pahami
Lantas untuk siapa lagi aku bermimpi malam ini?
Rinduku tak pernah tiris
Memenjara sabda yang kosong tanpa daya
Aku terdiam di ruang binasa
Dan kau mencibir tanpa dosa
Sudahlaah…..
(Widya Arema)
Sang moderator dan narasumber
Saatnya kita simak materi dari narasumber kita, Ibu Widya Setianingsih, S.Ag. Sebelumnya kita bisa kenalan dulu dengan bu Widya. Beliau adalah Alumni UIN Malang dan mengajar di MI Khadijah Malang. Ibu dua putra ini merupakan alumni KBMN ke-21. Beliau telah berhasil memiliki satu buku solo berjudul “Laras Makna Dalam Puisi” dan tiga puluh buku antologi. Bu Widya sejak 2010 sampai sekarang menjadi Pimred Majalah Kharisma di MI Khadijah Malang. Ketua Gerakan Literasi Madrasah. Menjabat sekretaris dua di KOMNASDIK. Untuk lebih kenal dengan dekat, berikut profil narasumber kita.
Sapa dan kata semangat dari bu Widya menggugah gelora kelas malam ini. Teriring ucap terima kasih pada OmJay guru blogger Indonesia,. Bu Widya menyampaikan berkat mengikuti KBMN beliau bisa memiliki buku karya sendiri. Juga terima kasih kepada tim solid OmJay yang telah semangat ikhlas berbagi ilmunya. Dan terus semangat menularkan virus blog dan cinta literasi.
Kalimat motivasi bu Widya mengobarkan semangat : "Tak akan mundur sebelum resume meluncur. Pantang menyerah sebelum buku solo tercipta".
Kembali puisi indah Bu Widya menghiasi ruang kelas online kita malam ini. Berikut kita simak bersama:
Kita adalah denting yang beresonansi
Mengurai nada dalam riuh yang sepi
Kita adalah deretan huruf yang berbaris tak berjeda
Mengungkap setiap kisah dalam suka dan duka
Kita adalah seutas tali yang terhubung dalam tarikan jemari
Berbisik dalam hati, dan bercerita dari dalam mimpi.
Bu Widya menceritakan perjalanan dan perjuangan hadirnya majalah di sekolah beliau. Terbayang rasa bangga ketika melihat kita, murid-murid kita, kegiatan dan karya siswa terpajang di majalah sekolah. Tentunya kita ingin sekolah kita dikenal masyarakat luas. Mungkin awalnya kita berpikir, apa bisa kita memiliki majalah sekolah sendiri. Terlintas bagaimana SDM, biaya, dukungan warga sekolah, kepala sekolah ataupun yayasan.
Begitupun awal lahirnya Majalah Sekolah Kharisma. Dulu dua orang yang merintis majalah sekolah ini. Satu teman sebagai pimred dan layouter. Bu widya sebagai pemburu berita sekaligus bendahara. Tampil hanya dengan difoto copy. Layout cuma pilih, gunting, tempel. Kemampuan menulis seadanya. Yang penting bisa membuat berita informasi sampai ke tangan siswa. Masya Allah, keren perjuangan Bu Widya. Semoga bisa jadi inspirasi kita semua untuk mempunyai majalah sekolah. Adapun artikel-artikel kini makin menarik disajikan di majalah sekolah. Seperti profil guru, profil siswa, kegiatan sekolah, kuiz, kolom rubik, prestasi siswa, prestasi sekolah dan banyak lagi.
Perjalanan Kharisma tidaklah mulus. Di tahun ketiga sempat vacum. Keterbatasan SDM dan dana menjadi salah satu alasan. Setelah dua tahun hibernase, akhirnya Kharisma bangkit lagi. Selama vacum, bu Widya membenahi Kharisma. Dengan crew yang diperlengkap. Ada penasehat, penanggung jawab, pimred, bendahara, editor, layout, hingga 4 orang pemburu berita. Akhirnya Kharisma tampil kembali dengan lebih menarik. Sejak 2010 sampai sekarang Bu Widya menjadi pimred majalah Kharisma.
Susunan redaksi majalah sekolah
Awal merintis pembuatan majalah sekolah, pastilah ada kendala. Tantangan pastilah ada. Tapi yakinlah pasti ada jalan keluar dan solusi. Bagaimana kita bisa menghadapi kendala itu. Sudah sewajarnya bila akan memulai yang baru itu pasti butuh effort yang kuat. Begitupun saat awal akan membuat majalah sekolah. Bila kita ada niat dan minat , maka carilah teman sejiwa yang betul-betul cinta literasi. kita sampaikan kepada kepala sekolah apa misi, visi dan manfaat majalah sekolah. Dengan niat yang kuat, pantang menyerah, komitmen dan do’a in syaa Allah impian memiliki majalah sekolah akan tewujud.
Mungkin bila belum bisa membuat mading ataupun majalah sekolah, perlu perjuangan agar sekolah bisa mewujudkan impian itu. Perlu adanya campur tangan sekolah, perlu adanya pressure. Kepala sekolah bisa memberi tugas ada para guru untuk mengisi mading kita. Setiap kelas juga diberi tanggung jawab merawat mengisi mading masing-masing. Bila kerjasama dan kompak semua warga sekolah, pasti mading atau majalah sekolah akan bisa konsinten tampil di sekolah.
Sebagai penutup Bu Widya memberikan image majalah sekolah Kharisma dan mantra penyemangat bagi para peserta. Kita tidak akan tahu seberapa besar kemapuan yang kita miliki, sebelum kita mencoba menghadapi kesulitan. Karena sejatinya “Siapa yang berhenti berusaha ketika menghadapi kegagalan, berarti dia telah gagal.” Mungkin ini saatnya kita para pegiat dan pengerak literasi, menuangkan rasa cinta pada lembaga kita. Dengan niat tulus ingin membuat sekolah kita popular dengan hadirnya sang majalah sekolah.
Setelah sesi tanya jawab, sampailah kita pada penutup. Bu Widya pamit undur diri. Materi malam ini begitu dahsyat dan jadi inspirasi kita semua. Tibalah sang moderator kita, Bu Emut menutup kelas malam ini. Semoga kita semua bisa mengenggam ilmu yang telah kita peroleh untuk menjadi bekal berkarya. Jadi karya demi keabadian diri. Mari bergandengan tangan untuk menyemarakkan literasi di negeri tercinta. Bersama kita pasti bisa menebar warna indah dalam goresan karya. Demikian Bu Emut menutup kelas malam ini. Mohon maaf bila dalam menulis resume ini banyak kekurangan. Terima kasih atas Ilmunya.
Salam Literasi
Yogyakarta, 3 Februari 2023
Sri Rejeki_Kiki, ibu tiga anak yang tinggal di Yogyakarta. Aktif mengajar di SDIT Anak Sholeh Sedayu Yogyakarta.

Comments
Post a Comment